Bukan Cuma Karena Teknologi, Ini Faktor yang Paling Berpengaruh
Coba perhatikan kebiasaan sehari-hari sekarang.
Bayar makan pakai QRIS. Transfer lewat aplikasi. Top up e-wallet. Bahkan pinjam uang pun bisa lewat smartphone.
Tanpa disadari, financial technology atau fintech sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi pertanyaannya, kenapa sebagian orang cepat sekali memakai fintech, sementara yang lain masih ragu?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “karena teknologinya canggih”.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keputusan seseorang menggunakan fintech dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kemudahan aplikasi, rasa percaya, sampai persepsi risiko.
Salah satu studi literatur yang menganalisis puluhan penelitian fintech menemukan bahwa ada beberapa faktor yang hampir selalu muncul dalam penelitian tentang adopsi fintech di berbagai negara.
Fintech Tumbuh Cepat, Tapi Tidak Semua Orang Langsung Mau Pakai
Pertumbuhan fintech di Indonesia sangat cepat.
Penggunaan smartphone meningkat, internet semakin mudah diakses, dan layanan keuangan digital makin beragam.
Sekarang orang bisa:
- bayar tanpa uang tunai
- kirim uang tanpa ke bank
- investasi lewat aplikasi
- pinjam dana secara online
Semua terlihat praktis. Namun, penelitian menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup untuk membuat orang mau menggunakan fintech. Pengguna akan mempertimbangkan manfaat, risiko, dan pengalaman sebelum memutuskan untuk memakai layanan tersebut. Artinya, adopsi fintech adalah soal perilaku manusia, bukan hanya soal teknologi.
Faktor Ke – 1 (Kalau Ribet, Orang Tidak Akan Pakai)
Faktor pertama yang paling sering muncul dalam penelitian adalah kemudahan penggunaan.
Aplikasi yang rumit membuat orang cepat menyerah.
Sebaliknya, aplikasi yang sederhana membuat orang merasa nyaman.
Inilah alasan kenapa banyak fintech berlomba membuat:
- tampilan lebih clean
- proses transaksi lebih singkat
- navigasi lebih jelas
- login lebih cepat
Dalam teori Technology Acceptance Model, kemudahan penggunaan adalah salah satu penentu utama apakah seseorang akan menerima teknologi baru atau tidak. Kalau terasa ribet, orang akan kembali ke cara lama.
Faktor Ke – 2 (Tidak Percaya, Tidak Akan Dipakai)
Berbeda dengan aplikasi hiburan, fintech berhubungan langsung dengan uang.
Karena itu, kepercayaan menjadi faktor yang sangat besar.
Pengguna biasanya akan bertanya:
- Apakah data saya aman?
- Apakah uang saya bisa hilang?
- Apakah perusahaan ini bisa dipercaya?
- Apakah aplikasi ini resmi?
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi sangat berpengaruh terhadap keputusan menggunakan fintech.
Tanpa trust, teknologi secanggih apapun tidak akan dipakai.
Faktor Ke – 3 (Takut Risiko Masih Jadi Penghalang)
Banyak orang sebenarnya tertarik memakai fintech, tapi masih ragu.
Alasannya hampir selalu sama:
- takut penipuan
- takut data bocor
- takut salah transfer
- takut aplikasi error
Persepsi risiko seperti ini terbukti menurunkan minat menggunakan layanan digital.
Sebaliknya, sistem keamanan yang jelas dan transparan bisa meningkatkan kepercayaan pengguna.
Artinya, keamanan bukan cuma soal IT, tapi soal psikologi pengguna.
Faktor Ke – 4 (Orang Pakai Kalau Merasa Ada Manfaatnya)
Orang tidak peduli seberapa canggih teknologi. Yang penting, apakah terasa berguna.
Fintech akan lebih mudah diterima jika menawarkan manfaat yang langsung terasa seperti:
- lebih cepat
- lebih praktis
- bisa dipakai kapan saja
- tidak perlu ke bank
- biaya lebih murah
Penelitian menunjukkan bahwa semakin besar manfaat yang dirasakan, semakin besar kemungkinan seseorang akan terus menggunakan fintech. Kalau tidak terasa beda, orang tidak akan pindah.
Faktor Ke – 5 (Generasi Muda Jadi Penggerak Utama)
Menariknya, sebagian besar pengguna fintech aktif berasal dari generasi muda.
Alasannya cukup jelas:
- lebih terbiasa dengan smartphone
- lebih nyaman dengan aplikasi
- lebih terbuka pada teknologi baru
- lebih sering melakukan transaksi digital
Beberapa penelitian bahkan menyebut bahwa Generasi Z menjadi kelompok yang paling cepat mengadopsi fintech, walaupun jumlah penelitian yang fokus pada generasi ini masih terbatas. Ini menunjukkan bahwa masa depan fintech sangat dipengaruhi oleh perilaku generasi digital.
Jadi, Apa Kunci Agar Fintech Semakin Banyak Dipakai?
Dari berbagai penelitian, ada satu pola yang selalu muncul.
Orang akan menggunakan fintech jika:
- mudah dipakai
- terasa bermanfaat
- aman
- bisa dipercaya
- memberikan pengalaman yang nyaman
Karena itu, meningkatkan adopsi fintech bukan hanya soal membuat fitur baru, tetapi tentang membuat pengguna merasa yakin.
Perusahaan fintech yang berhasil biasanya fokus pada:
- user experience
- keamanan sistem
- transparansi layanan
- edukasi pengguna
- reputasi brand
Bukan hanya teknologi, tapi juga kepercayaan.
Kesimpulan
Fintech memiliki potensi besar dalam memperluas akses layanan keuangan dan mempercepat transformasi digital. Namun, keberhasilan adopsi fintech tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi.
Faktor seperti kemudahan penggunaan, kepercayaan, keamanan, manfaat, pengalaman pengguna, dan literasi digital memainkan peran penting dalam menentukan apakah seseorang akan menggunakan layanan fintech atau tidak.
Memahami faktor-faktor ini membantu perusahaan, peneliti, dan regulator merancang strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan penggunaan layanan keuangan digital di masa depan.
Ikuti Update Riset Kami
Untuk mendapatkan insight terbaru di bidang ekonomi digital, kunjungi kanal resmi kami:
Website
https://eadt.center.telkomuniversity.ac.id/
Instagram
https://www.instagram.com/coe.eadt
LinkedIn
https://www.linkedin.com/company/coe-economics-of-advanced-digital-technology-telkom-university