Di era media sosial, perilaku konsumtif bukan lagi sekadar soal kebutuhan, tapi soal pengalaman. Banyak keputusan membeli hari ini dipicu oleh apa yang kita lihat, bukan apa yang kita butuhkan. Influencer memainkan peran besar di sini.
Tapi sekarang muncul pertanyaan baru: ketika influencer bukan manusia, melainkan karakter virtual berbasis AI, apakah dampaknya tetap sama?
Jawabannya tidak sesederhana “ya”.
Dari Influencer ke Perilaku Konsumtif: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Selama ini, banyak yang mengira influencer langsung mendorong orang untuk membeli. Padahal, menurut pendekatan Stimulus–Organism–Response (S-O-R), prosesnya jauh lebih kompleks:
- Stimulus (S): konten influencer (visual, interaksi, storytelling)
- Organism (O): reaksi internal (emosi, kesenangan, kepuasan)
- Response (R): keputusan membeli
Artinya, influencer tidak “memaksa” orang jadi konsumtif. Mereka menciptakan pengalaman yang memicu emosi tertentu, yang akhirnya mendorong pembelian.
Dan disinilah peran AI influencer jadi menarik.
AI Influencer: Lebih Menarik, Tapi Belum Tentu Lebih Meyakinkan
Virtual influencer berbasis AI punya keunggulan yang tidak dimiliki manusia:
- Visual selalu sempurna dan konsisten
- Konten bisa dikontrol penuh oleh brand
- Engagement bisa sangat tinggi
Bahkan dalam beberapa kasus, AI influencer menghasilkan lebih banyak likes dan views dibanding manusia. Tapi di balik itu, ada masalah besar yang sering diabaikan: trust.
Penelitian menunjukkan bahwa:
- Risiko persepsi (karena “tidak nyata”) bisa menurunkan kepercayaan
- Kurangnya autentisitas membuat konsumen ragu terhadap rekomendasi
Jadi, meskipun menarik, AI influencer tidak otomatis lebih persuasif.
Fakta yang Banyak Orang Lewatkan: Bukan Influencer-nya, Tapi Pengalamannya
Ini bagian yang paling sering disalahpahami.
Hasil penelitian justru menunjukkan bahwa:
Faktor seperti visual appeal atau interaktivitas tidak langsung memicu pembelian
Yang benar-benar mendorong niat beli adalah:
- Hedonic motivation (rasa senang, hiburan)
- Satisfaction (kepuasan pengalaman)
Artinya, orang tidak membeli karena “dipengaruhi influencer”, tapi karena mereka menikmati pengalaman yang diciptakan influencer tersebut. Ini berlaku baik untuk manusia maupun AI.
Jadi, Apakah AI Influencer Sama Efektifnya?
Jawaban jujurnya: tidak selalu.
AI influencer bisa:
- Lebih kuat dalam menciptakan pengalaman visual dan hiburan
- Lebih konsisten dalam branding
Tapi mereka juga:
- Lebih rentan terhadap distrust
- Kurang memiliki koneksi emosional yang autentik
Kesimpulannya:
AI influencer bisa mendorong perilaku konsumtif, tapi lewat jalur yang berbeda, dan dengan batasan yang lebih jelas dibanding influencer manusia.
Insight
Perilaku konsumtif di era digital bukan lagi soal siapa yang berbicara, tapi bagaimana pengalaman itu dirasakan. AI influencer mungkin masa depan marketing, tapi bukan karena mereka lebih “meyakinkan”. Mereka kuat karena mereka bisa mendesain pengalaman secara presisi.
Pertanyaannya sekarang bukan:
“AI atau manusia lebih berpengaruh?”
Tapi:
“Siapa yang lebih mampu menciptakan pengalaman yang membuat orang ingin membeli?”
Referensi
Gan, C. L., Lee, Y. Y., Liew, T. W., Tan, S. M., Ahmad, F., & Prasetio, A. (2025). Cognitive and affective factors in AI virtual influencer marketing: A stimulus–organism–response and pleasure–arousal–dominance model approach. Digital Business, 5, 100150. https://doi.org/10.1016/j.digbus.2025.100150
Ikuti Update Riset Kami
Untuk mendapatkan insight terbaru seputar ekonomi digital dan teknologi:
Website
https://eadt.center.telkomuniversity.ac.id/
Instagram
https://www.instagram.com/coe.eadt
LinkedIn
https://www.linkedin.com/company/coe-economics-of-advanced-digital-technology-telkom-university
